Jumat, 12 Oktober 2018

Bayangan

Bayangan...
Hitam...
Gelap...
Tidak ada rona...
Hanya prasangka...
Terkadang nestapa...
Dan tak berupa...
Hilang di pekat malam, terang di terik siang...

Bayangan....
Hitam...
Gelap...
Tidak ada rona...
Hanya senada...
Warnanya...
Hitam, pekat, bukan prasangka, tapi bayangan...


-Laili Windyastika-
4 Oktober 2018

Minggu, 26 Agustus 2018

Bagai langit dan bumi
Yang tak pernah sealam
bagai hitam dan putih
Yang tak pernah sewarna
Hanya... Kita
Yang merasakannya

Belajar melepaskan dirinya...
Walau setengah ku bersamanya
Kuyakin kita kan terbiasa
Walau inti jiwa tak terima

Bagai air dan api
Yang tak pernah senyawa
Bagai timur dan barat
Yang tak pernah searah

-Fourtwnty-

Sabtu, 25 Agustus 2018


Petang menyapa
Rindu ini semakin merana
Lagu kita meronta
Ingin segera disapa

Di pagi dan petang kini, hanya satu kata. Rindu
Tak bertuan, pun tak terbalas
Memori ku melesat jauh, bak air bah, datang begitu saja mengguyur tanpa aba-aba

Si pemilik tak terkejut, hanya rindu...
Si pemilik tak marah, hanya rindu
Si pemilik tak meronta, hanya rindu

Ku rindu senjaku....
Kalau ada waktu, sapa aku
Kalau mau, tatap aku seraya tersenyum
Kalau berkenan, ijinkan aku bertemu senja...

-Laili Windyastika-

Kamis, 05 Juli 2018


Tegap, dengan rahang dan bahu yg kokoh
Ku kira sudah cukup untuk melindungi ia yg kamu cinta
Alis yg cukup tebal dengan bentuk ideal semakin mempertegas bentuk wajahnya
Terkadang teduh tatapnya... Terkadang penuh amarah dalam matanya
Genggaman tangannya sedang dirindukan
Candanya selalu ditunggu...
Ah... Peduli apa, kisah dongeng di buku anak2
Pangeran berkuda datang dengan pedangnya dan menyelamatkan putri cantik.
Omong kosong
Tak ada artinya

Laki2 dengan wajah tampan rupawan penuh harta dan jabatan seakan jadi pembentuk awal laki2 bak pangeran
Laki2 dengan bentuk alis seperti pedang, sederhana.. namun begitu dicinta
Laki2 dengan bahu yg kokoh, ternyata menjadi salah satu sumber bahagia
Peluknya yg hangat sudah cukup membuat tenang yg ia cinta

Kiranya begitu...
Meskipun badai dikepalamu terkadang datang, dan aku... Tak jarang jadi penyebab badai itu datang..
Percayalah... Dalam setiap tatapku dan yg kulakukan, sama sekali tidak kumaksudkan untuk membuatmu dan amarahmu bersentuhan.

Pun.. dalam setiap butir pertanyaanku yg terkadang membuatmu risih, sama sekali tidak kumaksudkan untuk membuatmu terusik dan terganggu
Lagi... Dalam setiap kata yg kulontarkan padamu, kuharap kamu tau, didalamnya aku nyaman, didalamnya kutemukan aku
Kubilang pada Tuhan... Simpan laki2 ber alis pedang ini untukku
Simpan genggam tangannya untukku
Simpan peluk hangatnya untukku
Simpan canda guraunya untukku
Simpan tatap amarah dan teduhnya untukku
Tuhan... Apa aku egois?

Ia milikmu,tapi... Bisakah engkau pinjamkan si alis pedang padaku sampai engkau bilang cukup?
Sampai engkau katakan bahwa sudah waktunya bertamu ?
Sampai engkau katakan bahwa ia sudah bahagia?
Yg dapat kukatakan sekarang... Kutemukan aku didalam mu, tak ada yg berubah hingga saat ini...
Aku tidak akan meminta kamu untuk sama seperti ku..

Karena, kini... Tujuanku adalah melakukan apapun yg bisa kulakukan untukmu sesuai dengan apa yg kurasakan dan mengikuti kata hatiku. Kurasa itu yg paling baik untukku...
Trimakasih untuk si alis pedang...
Sedikit demi sedikit walau tidak selalu mulus.. aku berusaha menjadi lebih baik
Trimakasih utk setiap sabarmu..
Maaf untuk segala badai yg kuciptakan Mencintaimu seperti tidak ada habisnya..

-LailiWindyastika-