Dan... ada yang menukik hingga tidak terdengar lagi
suaranya. Diam, menjadi pilihanku saat ini, mungkin aku...
Bahkan untuk menegur pun aku tidak memiliki nyali.
Berakhir pada pertanyaan-pertanyaan dalam pikiran dan benakku, mengapa, apa dan
siapa . hanya sajak tak beraturan ini yang menjelaskan semuanya. Yang dulu,
tidak seperti yang dulu dulu dulu sekali dan yang sekarang tidak seperti yang
dulu dulu dulu dulu... hening meratap nanar. Tanpa sebuah ekspresi, tanpa
berdistraksi, tanpa meronta dan memberontak, kembali. Hanya diam yang bisa
dilakukan.
Tidak perlu mengerti ini semua. Memangnya aku siapa,
aku hanya suka bersajak. Sajak yang tidak beraturan. Jangan bertanya apapun,
tidak perlu mengerti. Kusembunyikan teriakan bahagia dan tangisan kegembiraan
disini. Terbalik? Memangnya kenapa jika aku diam saja, toh kau pun takkan
peduli. Hening meratap sunyi, sulap di kafe remang-remang, cinta hanya merpati
dari topi pesulap. Ku katakan, aku tidak
mengerti. Bisakah kau tidak seperti ini.
Aku tidak terlalu suka teka-teki. Namun, aku suka
mendengar teka-teki. Teka teki teku teka aku tak tau. Aku suka melihat
teka-teki. Dan... kamu adalah teka teki.
Yogyakarta, 25
Mei 2017 saat matahari sedang menyilaukan
Seiring dengan
hawa dingin, yang tak sabar bersentuhan dengan...
Tanganku.