Kamis, 09 Maret 2017

Botol dan Manusia


Manusia memiliki kesamaan dengan botol. Manusia bisa diibaratkan bagai sebuah botol yang terisi penuh dengan air mineral ataupun minuman berwarna yang menyegarkan di kala panas teriknya siang hari,banyak dicari, di buru, di perebutkan, namun pada saat yang sama pula, manusia juga bagaikan sebuah botol kosong yang jika isinya sudah habis, dilupakan dan dibuang begitu saja, di asingkan, tak digubris, dianggap sampah, di hinakan, tidak dicari lagi, tidak peduli apa yang terjadi dengan botol itu, apakah hancur, terlindas mobil, kotor, penyok disana sini, bahkan sudah tak berbentuk. Ini adalah ironi sebuah botol, mengapa bisa disamakan dengan manusia? sama seperti manusia yang datang pada kawannya, pada sobatnya, pada karibnya bahkan pada Tuhannya sekalipun saat mereka sedang butuh bantuan, setelah bantuan itu diterimanya, mereka menghinakan, tidak akan dicari, tidak di gubris, perlakuan buruklah yang justru diterima. Botol sama seperti pendirian manusia, tidak peduli didalam botol tersebut diisi oleh apa, minuman ataukah bumbu dapur, anggur, bahkan pasir sekalipun , ia hanyalah sebuah botol, tetap sebuah botol, tidak akan berubah. Begitulah seharusnya pendirian manusia, walaupun diisi oleh banyaknya pengaruh dari luar yang diumpakan seperti macam-macam isi botol itu, seperti botol, ia tetap konsisten. Tetap menjadi sebuah botol dengan bentuk dan rupa yang masih sama.

Sebuah botol juga bisa menjadi sesuatu yang berharga bagi beberapa manusia, bahkan botol bisa disulap menjadi beberapa liter beras dan uang. Seperti pesulap yang memainkan trik-trik sulapnya, tangan mereka lincah memilih dan mengambil botol-botol itu,keringat yang mengucur dari dahi seperti air mata dari seorang gadis kecil yang menangis, deras.  Kulit gelap dan tak terawat yang mereka miliki berasal dari sebuah botol. Mengapa? Mereka mencari botol-botol plastik bekas minuman atau bekas bumbu dapur di tempat yang pasti dihindari oleh kebanyakan orang, oleh mereka yang bahkan jijik untuk mendekatinya, oleh mereka yang terkadang memandang rendah tempat itu. Namun bagi beberapa orang ini, tempat itu adalah ladang rezeki mereka. Ladang yang berlimpah ruah seperti petani yang memanen padinya di musim kemarau. Botol-botol bisa memberikan mereka penghidupan.

Botol kini memiliki banyak inovasi-inovasi terbaru tidak melulu dibuang atau dijadikan tempat menaruh zat pelepas dahaga seperti air. Kini di tangan orang-orang kreatif, botol dijadikan untuk membangun sebuah istana,istana untuk ditinggali dengan keluarga. Ide kreatif ini muncul karena melihat pekerja bangunan dirumahnya yang sering  meneguk minuman berenergi dan keinginan untuk mengurangi sampah di kota Bandung, ialah Ridwan Kamil walikota Bandung yang memiliki ide untuk menggunakan botol kaca bekas minuman berenergi untuk dijadikan sebuah istana yang kini ditinggalinya. Botol juga menjadi media dalam menuangkan ide-ide kreatif, tidak hanya berisi air, kini botol lebih bervarian dalam penggunaannya, botol menjadi media seni lukisan pasir, didalam botol diisi dengan pasir yang dilukis sehingga menghasilkan lukisan pasir yang bagus, menarik dan memiliki nilai jual. Lagi-lagi botol memberikan penghidupan untuk beberapa orang dengan cara yang berbeda-beda.

Botol pun menjadi sebuah penanda sebuah kelas sosial. Dalam masyarakat kita mengoleksi botol seperti merk “Tupperware” sudah menjadi hal biasa, khususnya pada ibu-ibu rumah tangga. Dengan embel-embel “beli buat anak. Untuk bawa bekal ke sekolah” pengoleksi plastik beraneka bentuk ini kian marak, kian banyak pula promosi yang dilakukan. Mulai dari mulut ke mulut, saling titip antar saudara hingga dijual online di media sosial. Bentuknya yang berlekuk lekuk seperti tubuh wanita, menarik untuk dilihat hingga banyak yang ingin membeli dan memilikinya. Makin banyak pula tiruan dari produk plastik ini. Dalam masyarakat tidak lengkap rasanya bila dalam singgasana seorang ibu rumah tangga tak ada barang-barang dari merk plastik ini, entah itu botol air minum, panci, wajan, tempat sup, mangkuk ataupun tempat bekal untuk anak-anak. Produk ini pun tidak dijual dengan harga murah, kebanyakan dari produk ini diatas dari 100 ribu rupiah, beberapa memang ada pula dibawah kisaran harga 100 ribu. Dari harga produk ini menunjukkan bahwa target konsumen barang plastik ini adalah orang-orang dengan uang lebih, bisa jadi karena ini terjadi kecemburuan sosial terutama antar tetangga dan ibu-ibu rumpi yang senang bergosip di depan rumah dengan ibu-ibu lainnya. Bagi mereka yang hidup “pas-pasan” akan berfikir 2 kali bahkan lebih untuk membeli produk plastik ini, kecemburuan sosial pun terjadi selain karena pengaruh lingkungan sosial, harga yang di bandrol pun tidak terlalu murah.

Didalam botol pun sebuah impian dituliskan, dalam sebuah botol pula pesan dituliskam walaupun pesan itu tidak abadi. Dalam sebuah botol ada seni yang mengalir yang tergambar dari berbagai bentuk dan model dari botol-botol itu dari warna-warna yang dimiliki botol itu. Dalam sebuah botol sebenarnya memiliki banyak filosofi, botol sebenarnya hanya sesuatu yang remeh dan kurang berharga. Namun dari persepsi umum yang remeh dan tidak bernilai ini ditemukan beberapa hal yang berkaitan dan disebabkan oleh botol. Botol bisa menjadi sebuah pelajaran bagi manusia, saat itu pula botol menjadi sumber kehidupan beberapa orang, disaat yang sama pula botol menjadi sebuah inspirasi membuat hunian mewah bagi mereka yang memiliki inspirasi untuk membuat hunian yang berbeda. Dalam botol ditemukan banyaknya cita-cita dan impian yang ingin mereka capai setelah dewasa seperti pada film Serdadu Kumbang, ada adegan saat anak-anak menggantungkan botol-botol yang berisi dengan impian,harapan dan cita-cita mereka kelak setelah dewasa. Dalam sebuah botol itu semangat mereka mengalir, dalam botol berisi impian dan keinginan mereka untuk belajar menjadi meningkat. Botol, dengan bentuk yang beraneka ragam tanpa disadari menjadi sesuatu yang sebenarnya berharga bagi manusia, sesuatu yang baik untuk dijadikan pertimbangan dalam diri manusia. Botol, itulah namanya... benda dengan leher lebih kecil dibanding dengan tubuhnya.

Rabu, 08 Maret 2017

Senja Kemarin

 
            Untuk kamu yang selalu kuceritakan pada Tuhan, sepertinya kamu menyukai senja. Semburat senja yang berwarna jingga, menngingatkan ku padamu, karena kamu sepertinya menyukai senja itu. senja yang kala itu temani aku dan kamu di sebuah lapanngan berumput dengan pohon rindang berdiri gagah di senja itu. senja kemarin yang membawaku dalam belaian kenyamanan yang selalu kamu berikan padaku. Senja itu, yang selalu kamu abadikan dalam setiap lensa kamera mu. Kamu menyukai senja itu, ya.. senja kemarin, namun aku lebih suka saat aku melihat senja itu bersama dengan kamu, pertama kalinya kita memandang senja ditempat yang sama. Senja itu indah, seperti sebuah kanopi yang menyelimuti langit.

            Untuk kamu yang membuat aku menjadi diri ku sendiri... terimakasih atas banyaknya waktu yang kamu sempatkan untuk aku, menyempatkan untuk membuatku tertawa. Terimakasih karena kamu bersedia untuk tertawa bersama dengan aku. Senja kemarin... semoga kamu bukan seperti siluet alam raya.  Semoga apa yg disebut dengan cinta platonis tidak terjadi padaku... senjaku semburat jingga mu warnai petang itu..

            Hangat dan damai, senjaku, senja mu, senja kita, semesta menjawab saat kita bersama, langit cerah dengan kombinasi warna indah menjadi payung ku, dan ada kamu bersama ku, sore itu adalah waktu senja yang mendamaikan.