Manusia
memiliki kesamaan dengan botol. Manusia bisa diibaratkan bagai sebuah botol
yang terisi penuh dengan air mineral ataupun minuman berwarna yang menyegarkan
di kala panas teriknya siang hari,banyak dicari, di buru, di perebutkan, namun
pada saat yang sama pula, manusia juga bagaikan sebuah botol kosong yang jika
isinya sudah habis, dilupakan dan dibuang begitu saja, di asingkan, tak
digubris, dianggap sampah, di hinakan, tidak dicari lagi, tidak peduli apa yang
terjadi dengan botol itu, apakah hancur, terlindas mobil, kotor, penyok disana
sini, bahkan sudah tak berbentuk. Ini adalah ironi sebuah botol, mengapa bisa
disamakan dengan manusia? sama seperti manusia yang datang pada kawannya, pada
sobatnya, pada karibnya bahkan pada Tuhannya sekalipun saat mereka sedang butuh
bantuan, setelah bantuan itu diterimanya, mereka menghinakan, tidak akan
dicari, tidak di gubris, perlakuan buruklah yang justru diterima. Botol sama
seperti pendirian manusia, tidak peduli didalam botol tersebut diisi oleh apa,
minuman ataukah bumbu dapur, anggur, bahkan pasir sekalipun , ia hanyalah
sebuah botol, tetap sebuah botol, tidak akan berubah. Begitulah seharusnya
pendirian manusia, walaupun diisi oleh banyaknya pengaruh dari luar yang diumpakan
seperti macam-macam isi botol itu, seperti botol, ia tetap konsisten. Tetap
menjadi sebuah botol dengan bentuk dan rupa yang masih sama.
Sebuah
botol juga bisa menjadi sesuatu yang berharga bagi beberapa manusia, bahkan
botol bisa disulap menjadi beberapa liter beras dan uang. Seperti pesulap yang
memainkan trik-trik sulapnya, tangan mereka lincah memilih dan mengambil
botol-botol itu,keringat yang mengucur dari dahi seperti air mata dari seorang
gadis kecil yang menangis, deras. Kulit
gelap dan tak terawat yang mereka miliki berasal dari sebuah botol. Mengapa?
Mereka mencari botol-botol plastik bekas minuman atau bekas bumbu dapur di
tempat yang pasti dihindari oleh kebanyakan orang, oleh mereka yang bahkan
jijik untuk mendekatinya, oleh mereka yang terkadang memandang rendah tempat
itu. Namun bagi beberapa orang ini, tempat itu adalah ladang rezeki mereka.
Ladang yang berlimpah ruah seperti petani yang memanen padinya di musim
kemarau. Botol-botol bisa memberikan mereka penghidupan.
Botol
kini memiliki banyak inovasi-inovasi terbaru tidak melulu dibuang atau
dijadikan tempat menaruh zat pelepas dahaga seperti air. Kini di tangan
orang-orang kreatif, botol dijadikan untuk membangun sebuah istana,istana untuk
ditinggali dengan keluarga. Ide kreatif ini muncul karena melihat pekerja
bangunan dirumahnya yang sering meneguk
minuman berenergi dan keinginan untuk mengurangi sampah di kota Bandung, ialah
Ridwan Kamil walikota Bandung yang memiliki ide untuk menggunakan botol kaca
bekas minuman berenergi untuk dijadikan sebuah istana yang kini ditinggalinya.
Botol juga menjadi media dalam menuangkan ide-ide kreatif, tidak hanya berisi
air, kini botol lebih bervarian dalam penggunaannya, botol menjadi media seni
lukisan pasir, didalam botol diisi dengan pasir yang dilukis sehingga menghasilkan
lukisan pasir yang bagus, menarik dan memiliki nilai jual. Lagi-lagi botol
memberikan penghidupan untuk beberapa orang dengan cara yang berbeda-beda.
Botol
pun menjadi sebuah penanda sebuah kelas sosial. Dalam masyarakat kita
mengoleksi botol seperti merk “Tupperware” sudah menjadi hal biasa, khususnya
pada ibu-ibu rumah tangga. Dengan embel-embel “beli buat anak. Untuk bawa bekal
ke sekolah” pengoleksi plastik beraneka bentuk ini kian marak, kian banyak pula
promosi yang dilakukan. Mulai dari mulut ke mulut, saling titip antar saudara
hingga dijual online di media sosial. Bentuknya yang berlekuk lekuk seperti
tubuh wanita, menarik untuk dilihat hingga banyak yang ingin membeli dan
memilikinya. Makin banyak pula tiruan dari produk plastik ini. Dalam masyarakat
tidak lengkap rasanya bila dalam singgasana seorang ibu rumah tangga tak ada barang-barang
dari merk plastik ini, entah itu botol air minum, panci, wajan, tempat sup,
mangkuk ataupun tempat bekal untuk anak-anak. Produk ini pun tidak dijual
dengan harga murah, kebanyakan dari produk ini diatas dari 100 ribu rupiah,
beberapa memang ada pula dibawah kisaran harga 100 ribu. Dari harga produk ini
menunjukkan bahwa target konsumen barang plastik ini adalah orang-orang dengan
uang lebih, bisa jadi karena ini terjadi kecemburuan sosial terutama antar
tetangga dan ibu-ibu rumpi yang senang bergosip di depan rumah dengan ibu-ibu
lainnya. Bagi mereka yang hidup “pas-pasan” akan berfikir 2 kali bahkan lebih
untuk membeli produk plastik ini, kecemburuan sosial pun terjadi selain karena
pengaruh lingkungan sosial, harga yang di bandrol pun tidak terlalu murah.
Didalam
botol pun sebuah impian dituliskan, dalam sebuah botol pula pesan dituliskam
walaupun pesan itu tidak abadi. Dalam sebuah botol ada seni yang mengalir yang
tergambar dari berbagai bentuk dan model dari botol-botol itu dari warna-warna
yang dimiliki botol itu. Dalam sebuah botol sebenarnya memiliki banyak
filosofi, botol sebenarnya hanya sesuatu yang remeh dan kurang berharga. Namun
dari persepsi umum yang remeh dan tidak bernilai ini ditemukan beberapa hal
yang berkaitan dan disebabkan oleh botol. Botol bisa menjadi sebuah pelajaran
bagi manusia, saat itu pula botol menjadi sumber kehidupan beberapa orang,
disaat yang sama pula botol menjadi sebuah inspirasi membuat hunian mewah bagi
mereka yang memiliki inspirasi untuk membuat hunian yang berbeda. Dalam botol
ditemukan banyaknya cita-cita dan impian yang ingin mereka capai setelah dewasa
seperti pada film Serdadu Kumbang, ada adegan saat anak-anak menggantungkan
botol-botol yang berisi dengan impian,harapan dan cita-cita mereka kelak
setelah dewasa. Dalam sebuah botol itu semangat mereka mengalir, dalam botol
berisi impian dan keinginan mereka untuk belajar menjadi meningkat. Botol,
dengan bentuk yang beraneka ragam tanpa disadari menjadi sesuatu yang
sebenarnya berharga bagi manusia, sesuatu yang baik untuk dijadikan
pertimbangan dalam diri manusia. Botol, itulah namanya... benda dengan leher
lebih kecil dibanding dengan tubuhnya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar