Kamis, 12 Oktober 2017

Laut: Terlupakan atau Dilupakan?

         Mendayu-dayu bak ombak di pantai, menggaungkan ingatakan. Tatkala orang nomor 1 di Indonesia dengan semangatnya yang tak pudar mengatakan agar kita jangan memunggungi laut, beliau bukannya asal saja mengatakan seperti itu. Realita yang ada, kita lebih senang berteman dengan daratan dibanding si lautan, padahal wilayah Indonesia sebagian besar adalah laut. Bayangkan, apa laut tidak cemburu jika yang terus kita perhatikan adalah daratan. Jika laut bisa berbicara, pasti ia akan marah dan menenggelamkan kita manusia Indonesia yang lupa akan jasa si laut. Lihat saja, seenaknya kita melupakan laut, padahal latar sejarah bangsa Indonesia dimulai dari laut. Memangnya saat koloni Belanda datang ke Indonesia menggunakan bis dari daratan? Memangnya saat bangsa India melakukan perdagangan di Indonesia itu menggunakan kereta api? Betapa sombongnya kita dan seenak jidat melupakan laut, padahal jasa yang ia ukirkan begitu banyak. Hanya saja, dan hanya saja, kita lupa. Lupa jika garam itu dari laut, lupa jika ikan itu dari laut, lupa jika nelayan itu ladangnya di laut, lupa jika ternyata orang Indonesia nenek moyangnya adalah seorang pelaut.
Senja yang akrab dengan hamparan laut, embun yang bersahabat dengan aroma pagi, dan kita yang berkarib dengan daratan. Bukannya tanpa sebab ini semua terjadi, bukannya tanpa sebab kita miskin tentang bahari. Rentang sejarah mencatat ada sesuatu dibalik mengikisnya pengetahuan kita tentang lautan. Ketika Belanda yang berkonflik dengan Mataram Islam, namun efeknya terpapar hingga saat ini. Mataram Islam yang pasrah ketika wilayah bahari nya diambil VOC hanya bisa gigit jari. Untuk melupakan apa yang dilakukan VOC dan untuk mengembalikan wibawa Mataram Islam, lahirlah Babad Tanah Jawi yang dengan sengaja tiada mengkisahkan laut didalamnya, yang ada hanya secuplik kisah cinta dan pernikahan antara panembahan Senapati dan Nyai Ratu Kidul. Dengan strategi literasi kuno ini, bagaimana tidak makin menjauh kita dengan lautan. Menteri Susi dan Meme yang beredar, memang membangkitkan khasanah bahari yang mati suri beberapa tahun belakangan, adanya meme yang menggambarkan bahwa menteri Susi akan menenggelamkan siapa saja yang tidak makan ikan justru menyunggingkan sedikit senyum dikalangan masyarakat, upaya dilakukan agar kita sadar dan kembali pada laut yang sempat kita tinggalkan. Melalui kuliner misalnya, apa ada yang tidak tergoda ketika disuguhi pemandangan kepiting, berbagai macam ikan, udang dengan bumbu rempah khas Indonesia berdandan molek di meja makan kita? Melalui kuliner hasil laut, adalah cara agar kita ingat lagi bahwa laut merupakan bagian dari kehidupan bangsa Indonesia.
Melihat lagi ke belakang, walaupun secara historis Mataram Islam ini sudah cerai dengan lautan karena kekuasaan dari pihak kolonial, tapi bukan berarti hubungan diantara pesisir dan juga daratan (dalam hal ini pedalaman) begitu saja terputus, ditemukan dalam koran Bromatani edisi 17 pada Januari 1891 bahwa di wilayah kerajaan (Vorstenlanden) masih ada ikan, yaitu berupa gereh tongkol yang dibawa ke pasar. Dari bukti tertulis ini dapatlah kita menarik kesimpulan bahwa ternyata walaupun secara historis sudah terjadi perpisahan diantara pesisir dan pedalaman, tapi tidak dengan kulinernya. Ditambah lagi ternyata masyarakat Indonesia ini sudah mengenal ikan asin sejak berabad-abad lalu, terutama di wilayah Jawa. Ikan asin sendiri masih menjadi makanan favorit dikalangan orang Jawa sampai saat ini. Berlimpahnya komoditi garam pada saat itu menjadikan mayarakat Jawa memilih untuk memanfaatkan garam yang berlimpah ruah dengan mengasinkan ikan-ikan yang ada. Tak hanya ikan laut saja yang di asinkan, namun ikan air tawar juga tak luput dari proses pengasinan itu.
Laut, walaupun pernah dilupakan, seperti senja yang tak pernah tinggalkan sore, seperti bulan yang tak pernah tinggalkan bumi, laut tetap ada, tetap menghampar dengan megah di bumi pertiwi.

-Laili Windyastika-

Senin, 17 Juli 2017

Hi... Bagaimana dirimu?  Sudah makan kah?  Tidak rindukah kau dengan ku, wanita mu yg cerewet ini? Aku merindumu, hari ini, malam ini, detik ini. Kapan kita berjumpa lagi?
Aku menunggu kita berjumpa seperti embun yang terburu-buru jatuh menghampiri daun.
Aku kehilangan senja, senja memang tak bohong, kenyataannya, senja selalu menepati janji, dan aku menyukainya.  Kamu tau? Kurasa yang paling jujur dikanvas milik Tuhan adalah senja dan juga matahari.  Keduanya selalu menepati janji, tak bohong, tak banyak alasan. Dan keduanya, hasil rekaan Tuhan dikanvas megah milik semesta. Memujamu Tuhan, syukur ku karna aku bertemu lagi denganmu.
Kemari, saat aku memanggilmu "sayang"  kenyataannya bukan hanya sebutan saja, aku racuni didalamnya dengan cinta dan kasih ku, tak kuhitung seberapa banyak, tak ada takaran yg pas, aku hanya teteskan, mungkin kutumpahkan semuanya, agar kau terkena racun yang ku campur dengan kata "sayang"  itu.  Tapi tunggu, racun ini, tidak membahayakan mu sayang, tidak akan membuat nyawa mu hilang, atau pusing, demam dan muntah-muntah, sudah ku jampi-jampi dengan mantra bahwa kau harus menyayangiku setiap hari  sesuai dengan yang kau katakan padaku.  Bagaimana? Tidak berbahaya bukan? Aku meracik racun ku ini saat aku berada di satu bulan sebelum desember, ingat?hyaa, hanya se sederhana aku benar menyayangimu:))


20:53
By: lailiwindyastika

Senin, 26 Juni 2017

Kamu bisa jadikan aku rumahmu, tempat ternyaman untuk pulang, aku ada.  Tapi yang aku takutkan, ternyata kamu hanya mampir, hanya singgah, tidak berniat untuk menetap.  Rumah takkan tinggalkan tanah sebagai pijakan, kamu... Bisa kapan saja tinggalkan rumah....

Tak banyak ingin ku, tak pernah aku menuntut mu, aku hanya ingin kamu jujur..

And i, really miss u so bad...
And i, really miss u so...
I miss u ❤️

Ten2five -  I.M.U
Kata mama, hari ini aku lebih banyak diam. Mungkin karena biasanya aku banyak bertingkah dan tdk bisa diam.  Sebenarnya diam ku ini hanya diam krna aku rindu.  Rindu yg teramat sangat.  Kamu paham rinduku, aku paham rindumu, namun yg bisa dilakukan hanya diam, berdiri, sendiri, tak bergeming. Jarak mulai berbicara, rindu ku ini hanya rindu biasa, hanya sebagian kecil dari kasih sayangku padamu, sebagian kecil dari cinta yg ku tuangkan padamu. Rinduku adalah bongkahan, rinduku adalah sebuah duri. Aku yang trlalu sering menyimpan rindu padamu,

Rabu, 24 Mei 2017

Hening


Dan... ada yang menukik hingga tidak terdengar lagi suaranya. Diam, menjadi pilihanku saat ini, mungkin aku...

Bahkan untuk menegur pun aku tidak memiliki nyali. Berakhir pada pertanyaan-pertanyaan dalam pikiran dan benakku, mengapa, apa dan siapa . hanya sajak tak beraturan ini yang menjelaskan semuanya. Yang dulu, tidak seperti yang dulu dulu dulu sekali dan yang sekarang tidak seperti yang dulu dulu dulu dulu... hening meratap nanar. Tanpa sebuah ekspresi, tanpa berdistraksi, tanpa meronta dan memberontak, kembali. Hanya diam yang bisa dilakukan.

Tidak perlu mengerti ini semua. Memangnya aku siapa, aku hanya suka bersajak. Sajak yang tidak beraturan. Jangan bertanya apapun, tidak perlu mengerti. Kusembunyikan teriakan bahagia dan tangisan kegembiraan disini. Terbalik? Memangnya kenapa jika aku diam saja, toh kau pun takkan peduli. Hening meratap sunyi, sulap di kafe remang-remang, cinta hanya merpati dari  topi pesulap. Ku katakan, aku tidak mengerti. Bisakah kau tidak seperti ini.

Aku tidak terlalu suka teka-teki. Namun, aku suka mendengar teka-teki. Teka teki teku teka aku tak tau. Aku suka melihat teka-teki. Dan... kamu adalah teka teki.

 

 

Yogyakarta, 25 Mei 2017 saat matahari sedang menyilaukan

Seiring dengan hawa dingin, yang tak sabar bersentuhan dengan...

Tanganku.

Kamis, 09 Maret 2017

Botol dan Manusia


Manusia memiliki kesamaan dengan botol. Manusia bisa diibaratkan bagai sebuah botol yang terisi penuh dengan air mineral ataupun minuman berwarna yang menyegarkan di kala panas teriknya siang hari,banyak dicari, di buru, di perebutkan, namun pada saat yang sama pula, manusia juga bagaikan sebuah botol kosong yang jika isinya sudah habis, dilupakan dan dibuang begitu saja, di asingkan, tak digubris, dianggap sampah, di hinakan, tidak dicari lagi, tidak peduli apa yang terjadi dengan botol itu, apakah hancur, terlindas mobil, kotor, penyok disana sini, bahkan sudah tak berbentuk. Ini adalah ironi sebuah botol, mengapa bisa disamakan dengan manusia? sama seperti manusia yang datang pada kawannya, pada sobatnya, pada karibnya bahkan pada Tuhannya sekalipun saat mereka sedang butuh bantuan, setelah bantuan itu diterimanya, mereka menghinakan, tidak akan dicari, tidak di gubris, perlakuan buruklah yang justru diterima. Botol sama seperti pendirian manusia, tidak peduli didalam botol tersebut diisi oleh apa, minuman ataukah bumbu dapur, anggur, bahkan pasir sekalipun , ia hanyalah sebuah botol, tetap sebuah botol, tidak akan berubah. Begitulah seharusnya pendirian manusia, walaupun diisi oleh banyaknya pengaruh dari luar yang diumpakan seperti macam-macam isi botol itu, seperti botol, ia tetap konsisten. Tetap menjadi sebuah botol dengan bentuk dan rupa yang masih sama.

Sebuah botol juga bisa menjadi sesuatu yang berharga bagi beberapa manusia, bahkan botol bisa disulap menjadi beberapa liter beras dan uang. Seperti pesulap yang memainkan trik-trik sulapnya, tangan mereka lincah memilih dan mengambil botol-botol itu,keringat yang mengucur dari dahi seperti air mata dari seorang gadis kecil yang menangis, deras.  Kulit gelap dan tak terawat yang mereka miliki berasal dari sebuah botol. Mengapa? Mereka mencari botol-botol plastik bekas minuman atau bekas bumbu dapur di tempat yang pasti dihindari oleh kebanyakan orang, oleh mereka yang bahkan jijik untuk mendekatinya, oleh mereka yang terkadang memandang rendah tempat itu. Namun bagi beberapa orang ini, tempat itu adalah ladang rezeki mereka. Ladang yang berlimpah ruah seperti petani yang memanen padinya di musim kemarau. Botol-botol bisa memberikan mereka penghidupan.

Botol kini memiliki banyak inovasi-inovasi terbaru tidak melulu dibuang atau dijadikan tempat menaruh zat pelepas dahaga seperti air. Kini di tangan orang-orang kreatif, botol dijadikan untuk membangun sebuah istana,istana untuk ditinggali dengan keluarga. Ide kreatif ini muncul karena melihat pekerja bangunan dirumahnya yang sering  meneguk minuman berenergi dan keinginan untuk mengurangi sampah di kota Bandung, ialah Ridwan Kamil walikota Bandung yang memiliki ide untuk menggunakan botol kaca bekas minuman berenergi untuk dijadikan sebuah istana yang kini ditinggalinya. Botol juga menjadi media dalam menuangkan ide-ide kreatif, tidak hanya berisi air, kini botol lebih bervarian dalam penggunaannya, botol menjadi media seni lukisan pasir, didalam botol diisi dengan pasir yang dilukis sehingga menghasilkan lukisan pasir yang bagus, menarik dan memiliki nilai jual. Lagi-lagi botol memberikan penghidupan untuk beberapa orang dengan cara yang berbeda-beda.

Botol pun menjadi sebuah penanda sebuah kelas sosial. Dalam masyarakat kita mengoleksi botol seperti merk “Tupperware” sudah menjadi hal biasa, khususnya pada ibu-ibu rumah tangga. Dengan embel-embel “beli buat anak. Untuk bawa bekal ke sekolah” pengoleksi plastik beraneka bentuk ini kian marak, kian banyak pula promosi yang dilakukan. Mulai dari mulut ke mulut, saling titip antar saudara hingga dijual online di media sosial. Bentuknya yang berlekuk lekuk seperti tubuh wanita, menarik untuk dilihat hingga banyak yang ingin membeli dan memilikinya. Makin banyak pula tiruan dari produk plastik ini. Dalam masyarakat tidak lengkap rasanya bila dalam singgasana seorang ibu rumah tangga tak ada barang-barang dari merk plastik ini, entah itu botol air minum, panci, wajan, tempat sup, mangkuk ataupun tempat bekal untuk anak-anak. Produk ini pun tidak dijual dengan harga murah, kebanyakan dari produk ini diatas dari 100 ribu rupiah, beberapa memang ada pula dibawah kisaran harga 100 ribu. Dari harga produk ini menunjukkan bahwa target konsumen barang plastik ini adalah orang-orang dengan uang lebih, bisa jadi karena ini terjadi kecemburuan sosial terutama antar tetangga dan ibu-ibu rumpi yang senang bergosip di depan rumah dengan ibu-ibu lainnya. Bagi mereka yang hidup “pas-pasan” akan berfikir 2 kali bahkan lebih untuk membeli produk plastik ini, kecemburuan sosial pun terjadi selain karena pengaruh lingkungan sosial, harga yang di bandrol pun tidak terlalu murah.

Didalam botol pun sebuah impian dituliskan, dalam sebuah botol pula pesan dituliskam walaupun pesan itu tidak abadi. Dalam sebuah botol ada seni yang mengalir yang tergambar dari berbagai bentuk dan model dari botol-botol itu dari warna-warna yang dimiliki botol itu. Dalam sebuah botol sebenarnya memiliki banyak filosofi, botol sebenarnya hanya sesuatu yang remeh dan kurang berharga. Namun dari persepsi umum yang remeh dan tidak bernilai ini ditemukan beberapa hal yang berkaitan dan disebabkan oleh botol. Botol bisa menjadi sebuah pelajaran bagi manusia, saat itu pula botol menjadi sumber kehidupan beberapa orang, disaat yang sama pula botol menjadi sebuah inspirasi membuat hunian mewah bagi mereka yang memiliki inspirasi untuk membuat hunian yang berbeda. Dalam botol ditemukan banyaknya cita-cita dan impian yang ingin mereka capai setelah dewasa seperti pada film Serdadu Kumbang, ada adegan saat anak-anak menggantungkan botol-botol yang berisi dengan impian,harapan dan cita-cita mereka kelak setelah dewasa. Dalam sebuah botol itu semangat mereka mengalir, dalam botol berisi impian dan keinginan mereka untuk belajar menjadi meningkat. Botol, dengan bentuk yang beraneka ragam tanpa disadari menjadi sesuatu yang sebenarnya berharga bagi manusia, sesuatu yang baik untuk dijadikan pertimbangan dalam diri manusia. Botol, itulah namanya... benda dengan leher lebih kecil dibanding dengan tubuhnya.

Rabu, 08 Maret 2017

Senja Kemarin

 
            Untuk kamu yang selalu kuceritakan pada Tuhan, sepertinya kamu menyukai senja. Semburat senja yang berwarna jingga, menngingatkan ku padamu, karena kamu sepertinya menyukai senja itu. senja yang kala itu temani aku dan kamu di sebuah lapanngan berumput dengan pohon rindang berdiri gagah di senja itu. senja kemarin yang membawaku dalam belaian kenyamanan yang selalu kamu berikan padaku. Senja itu, yang selalu kamu abadikan dalam setiap lensa kamera mu. Kamu menyukai senja itu, ya.. senja kemarin, namun aku lebih suka saat aku melihat senja itu bersama dengan kamu, pertama kalinya kita memandang senja ditempat yang sama. Senja itu indah, seperti sebuah kanopi yang menyelimuti langit.

            Untuk kamu yang membuat aku menjadi diri ku sendiri... terimakasih atas banyaknya waktu yang kamu sempatkan untuk aku, menyempatkan untuk membuatku tertawa. Terimakasih karena kamu bersedia untuk tertawa bersama dengan aku. Senja kemarin... semoga kamu bukan seperti siluet alam raya.  Semoga apa yg disebut dengan cinta platonis tidak terjadi padaku... senjaku semburat jingga mu warnai petang itu..

            Hangat dan damai, senjaku, senja mu, senja kita, semesta menjawab saat kita bersama, langit cerah dengan kombinasi warna indah menjadi payung ku, dan ada kamu bersama ku, sore itu adalah waktu senja yang mendamaikan.