Mendayu-dayu bak ombak di pantai, menggaungkan ingatakan. Tatkala orang nomor 1 di Indonesia dengan semangatnya yang tak pudar mengatakan agar kita jangan memunggungi laut, beliau bukannya asal saja mengatakan seperti itu. Realita yang ada, kita lebih senang berteman dengan daratan dibanding si lautan, padahal wilayah Indonesia sebagian besar adalah laut. Bayangkan, apa laut tidak cemburu jika yang terus kita perhatikan adalah daratan. Jika laut bisa berbicara, pasti ia akan marah dan menenggelamkan kita manusia Indonesia yang lupa akan jasa si laut. Lihat saja, seenaknya kita melupakan laut, padahal latar sejarah bangsa Indonesia dimulai dari laut. Memangnya saat koloni Belanda datang ke Indonesia menggunakan bis dari daratan? Memangnya saat bangsa India melakukan perdagangan di Indonesia itu menggunakan kereta api? Betapa sombongnya kita dan seenak jidat melupakan laut, padahal jasa yang ia ukirkan begitu banyak. Hanya saja, dan hanya saja, kita lupa. Lupa jika garam itu dari laut, lupa jika ikan itu dari laut, lupa jika nelayan itu ladangnya di laut, lupa jika ternyata orang Indonesia nenek moyangnya adalah seorang pelaut.
Senja yang akrab dengan hamparan laut, embun yang bersahabat dengan aroma pagi, dan kita yang berkarib dengan daratan. Bukannya tanpa sebab ini semua terjadi, bukannya tanpa sebab kita miskin tentang bahari. Rentang sejarah mencatat ada sesuatu dibalik mengikisnya pengetahuan kita tentang lautan. Ketika Belanda yang berkonflik dengan Mataram Islam, namun efeknya terpapar hingga saat ini. Mataram Islam yang pasrah ketika wilayah bahari nya diambil VOC hanya bisa gigit jari. Untuk melupakan apa yang dilakukan VOC dan untuk mengembalikan wibawa Mataram Islam, lahirlah Babad Tanah Jawi yang dengan sengaja tiada mengkisahkan laut didalamnya, yang ada hanya secuplik kisah cinta dan pernikahan antara panembahan Senapati dan Nyai Ratu Kidul. Dengan strategi literasi kuno ini, bagaimana tidak makin menjauh kita dengan lautan. Menteri Susi dan Meme yang beredar, memang membangkitkan khasanah bahari yang mati suri beberapa tahun belakangan, adanya meme yang menggambarkan bahwa menteri Susi akan menenggelamkan siapa saja yang tidak makan ikan justru menyunggingkan sedikit senyum dikalangan masyarakat, upaya dilakukan agar kita sadar dan kembali pada laut yang sempat kita tinggalkan. Melalui kuliner misalnya, apa ada yang tidak tergoda ketika disuguhi pemandangan kepiting, berbagai macam ikan, udang dengan bumbu rempah khas Indonesia berdandan molek di meja makan kita? Melalui kuliner hasil laut, adalah cara agar kita ingat lagi bahwa laut merupakan bagian dari kehidupan bangsa Indonesia.
Melihat lagi ke belakang, walaupun secara historis Mataram Islam ini sudah cerai dengan lautan karena kekuasaan dari pihak kolonial, tapi bukan berarti hubungan diantara pesisir dan juga daratan (dalam hal ini pedalaman) begitu saja terputus, ditemukan dalam koran Bromatani edisi 17 pada Januari 1891 bahwa di wilayah kerajaan (Vorstenlanden) masih ada ikan, yaitu berupa gereh tongkol yang dibawa ke pasar. Dari bukti tertulis ini dapatlah kita menarik kesimpulan bahwa ternyata walaupun secara historis sudah terjadi perpisahan diantara pesisir dan pedalaman, tapi tidak dengan kulinernya. Ditambah lagi ternyata masyarakat Indonesia ini sudah mengenal ikan asin sejak berabad-abad lalu, terutama di wilayah Jawa. Ikan asin sendiri masih menjadi makanan favorit dikalangan orang Jawa sampai saat ini. Berlimpahnya komoditi garam pada saat itu menjadikan mayarakat Jawa memilih untuk memanfaatkan garam yang berlimpah ruah dengan mengasinkan ikan-ikan yang ada. Tak hanya ikan laut saja yang di asinkan, namun ikan air tawar juga tak luput dari proses pengasinan itu.
Laut, walaupun pernah dilupakan, seperti senja yang tak pernah tinggalkan sore, seperti bulan yang tak pernah tinggalkan bumi, laut tetap ada, tetap menghampar dengan megah di bumi pertiwi.
-Laili Windyastika-
Tidak ada komentar:
Posting Komentar